Cari Artikel Di Blog Ini

Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label the romance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label the romance. Tampilkan semua postingan
Minggu, 17 April 2011 08.30

My heart (how can I not love you??

Aku mencoba meletakkan biru itu pada indahnya
bingkai kasih yang sederhana ….

Waktu , waktukku adalah kejujuran ….

Dimana ia akan merangkai semua bukti …
Bahwa cintaku itu adalah nyata bagimu …
Air mata adalah kesungguhan.. Dimana kata dan keindahan itu tak
mampu aku
ungkapkan…

Bagaimana aku tak mencintaimu?

Kau membuatku
secara utuh dan penuh ….
Bagaimana aku tak berurai duka ketika engkau
pergi….?

Saat kesempurnaanku telah hilang karenamu …. Mentari mungkin dapat menghangatkan jiwaku dengan
sapaan yang indah dari-Nya setiap hari…

Aku tahu, dan aku mengerti …

Namun ternyata gelap lebih cepat dari apa yang aku
kira…
Mendungmu membuat jiwaku basah …
Menghujam dalam pusara indah kita berdua… Begitu getir… Begitu dalam…

Ku Tahu Tuhan adalah Maha Cinta…

Tapi Cinta…. Ia terkadang membuat aku lunglai dengan kejujuranku
yang apa adanya…

Aku mencintaimu … Kau membuat aku sempurna dengan kesederhanaan
yang kau punya …
Dan bagaimana aku tidak mencintaimu? Bagaimana aku
tak berai ketika semua ini memperaiku
dari yang satu?
Putihmu… Selalu ada dalam hatiku….
Aku dapat rasa.. dari kita yang kini dalam tempat yang
berbeda…

Katakanlah pada waktu … Bahwa aku adalah cintamu….

Katakanlah pada masa yang mungkin sekarang
mencabik nyata kita berdua …
Bahwa kita tetap hidup bersama kekuatan cinta dari Tuhan Yang Esa… Dengan kasih –Nya… Kita kan menyatu dalam syurga … Karena Tuhan Tahu… Dimana selayaknya Dia menempatkan jiwa – jiwa hamba-Nya yang tulus….

Dan cinta… Kau adalah kekuatan … Kau adalah ketulusan yang berjalan bersama air
mataku… Dalam doa – doaku… Dalam harapan kita berdua… Kehidupan…. Maupun kematian…

Bagaimana aku tidak mencintaimu?
Sungguh aku mencintai dirimu…
Sekalipun kesetiaanku saat ini adalah doa dan masih
bersama buliran air mata…

Tanpa kau…. Tanpa dirimu….
Dan kau harus tahu… Bahwa keraguan itu tak akan pernah ada dan bisa
membunuh cintaku atas kasihmu….

Bagaimana aku tidak mencintaimu?
Kau begitu indah dalam memeluk ketidak
sempurnaanku…
Kau begitu hangat saat semua pergi meninggalkanku …
Dan rasa itu tak pernah larut dalam kebinasaan… Tetap ada dalam kenangnya… Dalam alur buah cinta kita…

Sungguh…………. Aku ….mencintaimu…..
My ♥ (kisah 4musim yg lewat)

My heart (how can I not love you??

Aku mencoba meletakkan biru itu pada indahnya
bingkai kasih yang sederhana ….

Waktu , waktukku adalah kejujuran ….

Dimana ia akan merangkai semua bukti …
Bahwa cintaku itu adalah nyata bagimu …
Air mata adalah kesungguhan.. Dimana kata dan keindahan itu tak
mampu aku
ungkapkan…

Bagaimana aku tak mencintaimu?

Kau membuatku
secara utuh dan penuh ….
Bagaimana aku tak berurai duka ketika engkau
pergi….?

Saat kesempurnaanku telah hilang karenamu …. Mentari mungkin dapat menghangatkan jiwaku dengan
sapaan yang indah dari-Nya setiap hari…

Aku tahu, dan aku mengerti …

Namun ternyata gelap lebih cepat dari apa yang aku
kira…
Mendungmu membuat jiwaku basah …
Menghujam dalam pusara indah kita berdua… Begitu getir… Begitu dalam…

Ku Tahu Tuhan adalah Maha Cinta…

Tapi Cinta…. Ia terkadang membuat aku lunglai dengan kejujuranku
yang apa adanya…

Aku mencintaimu … Kau membuat aku sempurna dengan kesederhanaan
yang kau punya …
Dan bagaimana aku tidak mencintaimu? Bagaimana aku
tak berai ketika semua ini memperaiku
dari yang satu?
Putihmu… Selalu ada dalam hatiku….
Aku dapat rasa.. dari kita yang kini dalam tempat yang
berbeda…

Katakanlah pada waktu … Bahwa aku adalah cintamu….

Katakanlah pada masa yang mungkin sekarang
mencabik nyata kita berdua …
Bahwa kita tetap hidup bersama kekuatan cinta dari Tuhan Yang Esa… Dengan kasih –Nya… Kita kan menyatu dalam syurga … Karena Tuhan Tahu… Dimana selayaknya Dia menempatkan jiwa – jiwa hamba-Nya yang tulus….

Dan cinta… Kau adalah kekuatan … Kau adalah ketulusan yang berjalan bersama air
mataku… Dalam doa – doaku… Dalam harapan kita berdua… Kehidupan…. Maupun kematian…

Bagaimana aku tidak mencintaimu?
Sungguh aku mencintai dirimu…
Sekalipun kesetiaanku saat ini adalah doa dan masih
bersama buliran air mata…

Tanpa kau…. Tanpa dirimu….
Dan kau harus tahu… Bahwa keraguan itu tak akan pernah ada dan bisa
membunuh cintaku atas kasihmu….

Bagaimana aku tidak mencintaimu?
Kau begitu indah dalam memeluk ketidak
sempurnaanku…
Kau begitu hangat saat semua pergi meninggalkanku …
Dan rasa itu tak pernah larut dalam kebinasaan… Tetap ada dalam kenangnya… Dalam alur buah cinta kita…

Sungguh…………. Aku ….mencintaimu…..
My ♥ (kisah 4musim yg lewat)

Bahasa sunyi terangkum mewarnai cinta semu

Aku bukanlah bintang yang menerangi gelap malam.
Dan bukanlah daun
kering yang berserak ditiup angin. Aku adalah seorang
pengembara yang
sedang menyusuri dan mencari pelangi di balik kabut
hitam. Yang ingin kujumpai di hujung harapanku adalah lantera jiwa. Obor
kehidupan yang
menerangi setiap langkahku. Aku adalah tarikan nafas lautan. Aku adalah airmata
langit. Aku
adalah
senyuman bumi. Begitu juga cinta, adalah tarikan nafas
dari lautan
perasaan, airmata langit dan senyuman dari bumi sang jiwa. Setiap kali aku letih melangkah, aku berhenti sejenak
untuk sekadar
mencium harummu. Kusandarkan tubuh ini dan
kuselimuti diriku dengan
senandung merdu. Senandung yang juga dinyanyikan
oleh sungai dan hutan. Saat jiwaku lapar, kusinggahi rumah di setiap
jalan yang ku
lalui. Kuketuk rumah-rumah mereka dengan loceng-
loceng kehidupan. Aku
hendak menyemaikan benih bunga jiwa yang akan
membawa impianku sampai ke langit dan kuyakini langit akan memberikan apa
yang dinamakan
cinta. Tetapi yang kudapati rumah-rumah itu telah terisi
sepasang
jiwa
yang sejatinya-ingin kucari. Aku tak ingin memadamkan lentera hati
yang ada dalam sangkar sepasang merpati putih
kerana kutahu
kecantikan
akan bersinar lebih terang dalam hati orang yang
merindukannya berbanding mata yang melihatnya. Kucuba rentangkan kembali sayap patahku, kembali
kuterbang lalu
menghilang di balik awan. Kutinggalkan tanda mata
berupa titis darah
dari setiap daun pintu yang kubuka. Sebagai tanda
bahawa aku -si jiwa kesepian- pernah hadir di sini. Jiwa yang
menghembuskan nafas
kerinduan. Jiwa yang menyenandungkan kebahagiaan
dan nestapa cinta.
Si
pembawa karung kasih bernama harapan. Dan kuketahui cinta telah
memperlakukan aku seperti matahari yang menghidupi
dan mematikan
padang-padang dengan panas teriknya. Jiwa
menasihatiku dan
mengungkapkan kepadaku bahawa cinta tidak hanya menghargai orang yang
mencintai tetapi juga orang yang dicintai. Sejak saat itu,
bagiku
cinta ibarat jaring labah-labah di antara dua bunga yang
dekat satu
sama lain. Cinta menjadi lingkaran cahaya yang tanpa awal dan tanpa
akhir. Wahai sukma agung yang terdiam bisu, dalam
keheningan malam aku
mendengar suaranya yang amat merdu. Ketika aku
mahu menutup mata ini,
masih kurasakan sentuhan jemarinya yang lembut di
bibirku. Masih teringat ketika kami berada di taman, kami duduk di
atas sebuah batu
sambil menatap cakerawala yang jauh. Dia
menunjukkan padaku sudut
langit yang berwarna keemasan dan menyedarkanku
akan merdunya senandung burung-burung sebelum mereka tidur di
malam hari. Dialah
kekasih khayalku yang selalu menemaniku ke manaku
pergi. Prasasti jiwaku bersaksi dan berkata : "Kegelapan bisa
menyembunyikan
pepohonan dan bunga-bungaan dari pandangan mata.
Tetapi kegelapan
tidak dapat menyembunyikan dirinya dari jiwaku.
Wahai alam raya, dunia
para penyair yang bermahkota duri! Aku terlahir dari
dunia yang
hilang
dan dalam ketersendirian kuciptakan kekasih khayalan
untuk pasangan jiwaku. Aku tertawa untuk diriku atas kemalangan
jiwaku. Apakah aku
telah kehilangan bentuk-bentuk kehidupan sehingga
aku merasa lebih
baik melihat dan mendengar dalam alam impian? Di
keheningan malam yang
dingin, kulepaskan jiwaku agar bisa menari-nari di
awan dan kubiarkan
pula jiwaku bermandikan seribu bintang. Aku bermimipi! Lalu kutemukan diriku di dalam sebuah perahu kecil ,
terapung-apung
di
samudera luas tanpa batas. Tiba-tiba aku memandang
ke atas dan
melihat kekasih hidupku berada sangat dekat di atasku. Aku
bersorak
kegirangan, membentangkan tanganku dan berteriak:
"Mengapa engkau
meninggalkan aku kekasih? Ke mana saja engkau
selama ini? Dekatlah kepadaku dan jangan pernah lari meninggalkan aku
sendirian!" Tetapi dia tidak bergerak. Di wajahnya kulihat tanda-
tanda kesedihan
dan kesakitan yang tak pernah aku lihat sebelumnya.
Dengan suara
lembut dan lirih dia berkata: "Aku datang dari
kedalaman samudera untuk melihatmu sekali lagi. Aku ingin melihatmu
tersenyum untuk
terakhir kali! Kembalilah ke duniamu dan lupakanlah
aku! Ku mohon,
lupakanlah aku!" Kulihat dia menutup wajah cantiknya
yang berderaikan airmata darah. Setelah mengucapkan kata-kata itu, dia
menghilang ke
dalam gumpalan kabut yang tiba-tiba datang. Aku berteriak sekeras-kerasnya dengan hati kalut aku
memanggilnya ke
segala arah. "Aku mencintaimu. Jangan tinggalkan aku!" Aku
menatap nanar ke segala
penjuru tetapi yang nampak hanya rintik-rintik hujan,
kerlip bintang
yang bertemankan untaian cahaya lembut sinar
rembulan. Kekasihku, kapan kucuba untuk mendekatimu lewat
ucapan sebagai
peribadi yang utuh tetapi engkau selalu menjauh dariku
dan sulit
kugapai. Tetapi apapun yang terjadi aku senang
bersamamu. kerana engkau adalah sebuah menara kekuatan! Aku tak tahu
apa yang harus
kulakukan hari ini tanpa engkau. Walau aku harus
mandi dalam kobaran
api, denganmu aku merasa sangat terlindung dan
terjaga. Aku kembali ke tempat peraduanku, jiwaku merintih.
Aku seperti berada
di perahu yang ganjil! Perahu yang mudah goyah
disapu ombak dan
badai.
Lalu kulihat jasadku terkapar di tepi pantai. Kulihat sekelompok
gagak
mengelilingiku, menantiku dengan sabar lepasnya roh
dari ragaku!
Jiwaku memelas melihat jasad yang tak berdaya di
depannya kemudian dengan perlahan-lahan aku meninggalkannya. Dan
kulihat juga di sana,
kulihat kekasihku jiwaku sedang terpasung dan didera
darah menitis
dari kaki dan tangannya dan jatuh menimpa bunga-
bunga yang ada di bawahnya. Janganlah menangis kekasihku, cinta tercipta untuk
membuat mata-mata
kita menjadikan kita pelayarannya agar kita mendapat
anugerah
kekuatan
dan ketabahan. Hentikan airmatamu kerana kita telah mengangkat
sumpah.
Laluku berkata: "Ketika aku berdiri bagaikan sebuah
cermin jernih di
hadapanmu, kamu memandang ke dalam diriku dan
melihat bayanganmu. Kemudian kamu berkata: "Aku cinta kamu." Tetapi sebenarnya kamu mencintai dirimu dalam diriku. "Wahai kekasih hati! Hanya dengan cinta yang indah
kita dapat
bertahan
terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan dan
duka perpisahan.
Aku tak punya pilihan lain kecuali berjuang setiap hari sampai
kutemukan harta yang layak kuserahkan padamu.
Harta untuk membantu
kita dalam mengharungi penziarahan hidup kita. Ketika
tangan
kehidupan terasa berat dan malam tak berirama, inilah saatnya
untuk cinta dan
kepercayaan. Dan betapa menjadi ringannya tangan
kehidupan dan betapa
berirama malam ketika seseorang mencintai dan
mempercayainya. Cinta adalah cahaya ghaib yang dipancarkan dari inti yang
membakar jiwa dan
menyinari sekeliling bumi. Sehingga memungkinkan
kami merasa hidup
laksana mimpi indah di antara keterjagaan yang satu
dengan keterjagaan
yang lain. Wahai kekasih, walau ragaku telah menyatu dengan
tanah, aku akan
sentiasa mengingat cinta pertamaku. Dan aku akan
menggapai kembali
saat-saat yang ganjil itu. Ingatan yang mengubah dasar
perasaanku dan membuatku sedemikian gembira meskipun kegetiran
terasa dalam misteri.
Ia akan terus hidup laksana seorang tawanan cinta di
seberang laut di
mana ia dikebumikan. Cinta adalah sesuatu yang dapat
kuperoleh serta tak seorang pun yang dapat melenyapkannya dariku.
Hubungan antara kau
dan aku merupakan hal paling indah dalam hidupku.
Sesuatu yang paling
mengesankan yang pernah kuketahui dalam hidup dan
akan selalu aku kenang.

Bahasa sunyi terangkum mewarnai cinta semu

Aku bukanlah bintang yang menerangi gelap malam.
Dan bukanlah daun
kering yang berserak ditiup angin. Aku adalah seorang
pengembara yang
sedang menyusuri dan mencari pelangi di balik kabut
hitam. Yang ingin kujumpai di hujung harapanku adalah lantera jiwa. Obor
kehidupan yang
menerangi setiap langkahku. Aku adalah tarikan nafas lautan. Aku adalah airmata
langit. Aku
adalah
senyuman bumi. Begitu juga cinta, adalah tarikan nafas
dari lautan
perasaan, airmata langit dan senyuman dari bumi sang jiwa. Setiap kali aku letih melangkah, aku berhenti sejenak
untuk sekadar
mencium harummu. Kusandarkan tubuh ini dan
kuselimuti diriku dengan
senandung merdu. Senandung yang juga dinyanyikan
oleh sungai dan hutan. Saat jiwaku lapar, kusinggahi rumah di setiap
jalan yang ku
lalui. Kuketuk rumah-rumah mereka dengan loceng-
loceng kehidupan. Aku
hendak menyemaikan benih bunga jiwa yang akan
membawa impianku sampai ke langit dan kuyakini langit akan memberikan apa
yang dinamakan
cinta. Tetapi yang kudapati rumah-rumah itu telah terisi
sepasang
jiwa
yang sejatinya-ingin kucari. Aku tak ingin memadamkan lentera hati
yang ada dalam sangkar sepasang merpati putih
kerana kutahu
kecantikan
akan bersinar lebih terang dalam hati orang yang
merindukannya berbanding mata yang melihatnya. Kucuba rentangkan kembali sayap patahku, kembali
kuterbang lalu
menghilang di balik awan. Kutinggalkan tanda mata
berupa titis darah
dari setiap daun pintu yang kubuka. Sebagai tanda
bahawa aku -si jiwa kesepian- pernah hadir di sini. Jiwa yang
menghembuskan nafas
kerinduan. Jiwa yang menyenandungkan kebahagiaan
dan nestapa cinta.
Si
pembawa karung kasih bernama harapan. Dan kuketahui cinta telah
memperlakukan aku seperti matahari yang menghidupi
dan mematikan
padang-padang dengan panas teriknya. Jiwa
menasihatiku dan
mengungkapkan kepadaku bahawa cinta tidak hanya menghargai orang yang
mencintai tetapi juga orang yang dicintai. Sejak saat itu,
bagiku
cinta ibarat jaring labah-labah di antara dua bunga yang
dekat satu
sama lain. Cinta menjadi lingkaran cahaya yang tanpa awal dan tanpa
akhir. Wahai sukma agung yang terdiam bisu, dalam
keheningan malam aku
mendengar suaranya yang amat merdu. Ketika aku
mahu menutup mata ini,
masih kurasakan sentuhan jemarinya yang lembut di
bibirku. Masih teringat ketika kami berada di taman, kami duduk di
atas sebuah batu
sambil menatap cakerawala yang jauh. Dia
menunjukkan padaku sudut
langit yang berwarna keemasan dan menyedarkanku
akan merdunya senandung burung-burung sebelum mereka tidur di
malam hari. Dialah
kekasih khayalku yang selalu menemaniku ke manaku
pergi. Prasasti jiwaku bersaksi dan berkata : "Kegelapan bisa
menyembunyikan
pepohonan dan bunga-bungaan dari pandangan mata.
Tetapi kegelapan
tidak dapat menyembunyikan dirinya dari jiwaku.
Wahai alam raya, dunia
para penyair yang bermahkota duri! Aku terlahir dari
dunia yang
hilang
dan dalam ketersendirian kuciptakan kekasih khayalan
untuk pasangan jiwaku. Aku tertawa untuk diriku atas kemalangan
jiwaku. Apakah aku
telah kehilangan bentuk-bentuk kehidupan sehingga
aku merasa lebih
baik melihat dan mendengar dalam alam impian? Di
keheningan malam yang
dingin, kulepaskan jiwaku agar bisa menari-nari di
awan dan kubiarkan
pula jiwaku bermandikan seribu bintang. Aku bermimipi! Lalu kutemukan diriku di dalam sebuah perahu kecil ,
terapung-apung
di
samudera luas tanpa batas. Tiba-tiba aku memandang
ke atas dan
melihat kekasih hidupku berada sangat dekat di atasku. Aku
bersorak
kegirangan, membentangkan tanganku dan berteriak:
"Mengapa engkau
meninggalkan aku kekasih? Ke mana saja engkau
selama ini? Dekatlah kepadaku dan jangan pernah lari meninggalkan aku
sendirian!" Tetapi dia tidak bergerak. Di wajahnya kulihat tanda-
tanda kesedihan
dan kesakitan yang tak pernah aku lihat sebelumnya.
Dengan suara
lembut dan lirih dia berkata: "Aku datang dari
kedalaman samudera untuk melihatmu sekali lagi. Aku ingin melihatmu
tersenyum untuk
terakhir kali! Kembalilah ke duniamu dan lupakanlah
aku! Ku mohon,
lupakanlah aku!" Kulihat dia menutup wajah cantiknya
yang berderaikan airmata darah. Setelah mengucapkan kata-kata itu, dia
menghilang ke
dalam gumpalan kabut yang tiba-tiba datang. Aku berteriak sekeras-kerasnya dengan hati kalut aku
memanggilnya ke
segala arah. "Aku mencintaimu. Jangan tinggalkan aku!" Aku
menatap nanar ke segala
penjuru tetapi yang nampak hanya rintik-rintik hujan,
kerlip bintang
yang bertemankan untaian cahaya lembut sinar
rembulan. Kekasihku, kapan kucuba untuk mendekatimu lewat
ucapan sebagai
peribadi yang utuh tetapi engkau selalu menjauh dariku
dan sulit
kugapai. Tetapi apapun yang terjadi aku senang
bersamamu. kerana engkau adalah sebuah menara kekuatan! Aku tak tahu
apa yang harus
kulakukan hari ini tanpa engkau. Walau aku harus
mandi dalam kobaran
api, denganmu aku merasa sangat terlindung dan
terjaga. Aku kembali ke tempat peraduanku, jiwaku merintih.
Aku seperti berada
di perahu yang ganjil! Perahu yang mudah goyah
disapu ombak dan
badai.
Lalu kulihat jasadku terkapar di tepi pantai. Kulihat sekelompok
gagak
mengelilingiku, menantiku dengan sabar lepasnya roh
dari ragaku!
Jiwaku memelas melihat jasad yang tak berdaya di
depannya kemudian dengan perlahan-lahan aku meninggalkannya. Dan
kulihat juga di sana,
kulihat kekasihku jiwaku sedang terpasung dan didera
darah menitis
dari kaki dan tangannya dan jatuh menimpa bunga-
bunga yang ada di bawahnya. Janganlah menangis kekasihku, cinta tercipta untuk
membuat mata-mata
kita menjadikan kita pelayarannya agar kita mendapat
anugerah
kekuatan
dan ketabahan. Hentikan airmatamu kerana kita telah mengangkat
sumpah.
Laluku berkata: "Ketika aku berdiri bagaikan sebuah
cermin jernih di
hadapanmu, kamu memandang ke dalam diriku dan
melihat bayanganmu. Kemudian kamu berkata: "Aku cinta kamu." Tetapi sebenarnya kamu mencintai dirimu dalam diriku. "Wahai kekasih hati! Hanya dengan cinta yang indah
kita dapat
bertahan
terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan dan
duka perpisahan.
Aku tak punya pilihan lain kecuali berjuang setiap hari sampai
kutemukan harta yang layak kuserahkan padamu.
Harta untuk membantu
kita dalam mengharungi penziarahan hidup kita. Ketika
tangan
kehidupan terasa berat dan malam tak berirama, inilah saatnya
untuk cinta dan
kepercayaan. Dan betapa menjadi ringannya tangan
kehidupan dan betapa
berirama malam ketika seseorang mencintai dan
mempercayainya. Cinta adalah cahaya ghaib yang dipancarkan dari inti yang
membakar jiwa dan
menyinari sekeliling bumi. Sehingga memungkinkan
kami merasa hidup
laksana mimpi indah di antara keterjagaan yang satu
dengan keterjagaan
yang lain. Wahai kekasih, walau ragaku telah menyatu dengan
tanah, aku akan
sentiasa mengingat cinta pertamaku. Dan aku akan
menggapai kembali
saat-saat yang ganjil itu. Ingatan yang mengubah dasar
perasaanku dan membuatku sedemikian gembira meskipun kegetiran
terasa dalam misteri.
Ia akan terus hidup laksana seorang tawanan cinta di
seberang laut di
mana ia dikebumikan. Cinta adalah sesuatu yang dapat
kuperoleh serta tak seorang pun yang dapat melenyapkannya dariku.
Hubungan antara kau
dan aku merupakan hal paling indah dalam hidupku.
Sesuatu yang paling
mengesankan yang pernah kuketahui dalam hidup dan
akan selalu aku kenang.
Sabtu, 16 April 2011 23.40

Tunggu aku di syurga (the romance)

Syifa, seorang perempuan shalihah yang tak hanya
sekedar cantik, perhiasan iman dan keshalihannya
menghiasi setiap langkahnya. Syifa cukup terkenal
dikalangan aktivis,bisa dibilang mobilitasnya lumayan
tinggi. Syifa mulai memasuki sebuah fase yang sering
dialami setiap wanita. Usianya memasuki angka duapuluh lima tahun,hatinya mulai dihiasi rasa rindu
yang tak bisa diurai dengan logika. Perlahan Syifa menyusun kepingan-kepingan
keinginannya dan mengumpulkan segenap kekuatan.
Ia menemui murabbinya. “ Mbak Hasna, saya ingin menikah. Tolong carikan saya calon ya Mbak…” “ InsyaAllah dik,, biodata dan foto adik sudah disiapkan?” “ Sudah mbak, ini biodata saya..” “ Oke, adik jangan lupa terus berdoa ya …” Dengan wajah penuh semangat dan azzam yang kuat,
Syifa melangkah meninggalkan rumah Hasna. Sejak itu
ia tak pernah berhenti berdoa. Setiap malam ia semakin
rajin berkhalwat dengan Rabbnya. Sujudnya semakin
panjang menghiasi setiap shalatnya. “ Ya Rabb, hamba menyerahkan semua padaMu. Engkaulah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik
untuk hamba. Hamba hanya ingin seorang lelaki shalih.
Yang kan mencintai hamba dengan kecintaanNya
padaMu. Yang kan selalu membuat hamba iri dengan
ketaatannya padaMu. Hamba ingin seorang lelaki
shalih,, yang kan melepas hamba dengan ridha dan keikhlasannya ketika hamba berpulang kepadaMu.. “ Itulah sepenggal doa Syifa.. Hari berganti hari, belum ada kabar dari mbak Hasna.
Disatu sisi Syifa gelisah, disatu sisi dia terus berusaha
menenangkan dan menguatkan hatinya. Baru beberapa ia menyerahkan biodatanya, sedangkan
diluar sana mungkin ada yang telah menunggu
bertahun-tahun. “Ah… harus tetap semangat..!” bisiknya dalam hati. ***
Di tempat lain, sesosok laki-laki shalih, sedang
bermunajah di penghujung malam. Hatinya menangis
pilu. Beberapa kali hatinya terluka, lamarannya
beberapa kali ditolak. Sedangkan usia semakin
menunjukkan angka yang semakin tua, belum lagi orangtua yang semakin iba melihatnya tak kunjung
bersanding dengan bidadari. Keinginan untuk menikah
pun tak bisa dibenddung lagi. Ia tak tahu harus
berikhtiar apalagi. Ia hanya bisa mengadukan pada
RabbNya, memohon segenap kekuatan dan semangat
yang sempat padam. “ Nak, bapak dan ibu selalu mendoakan kamu. Mungkin yang kemarin-kemarin memang belum yang
terbaik buat kamu…”. Ia, Ahmad, tak kuasa menahan haru ketika teringat
ucapan ibunya. Sebagai seorang laki-laki, ia cukup ideal.
Ia laki-laki yang shalih, mapan dan dari keluarga yang
baik. Suatu hari, ketika ia beranjak dari tempat duduknya,
setelah mengikuti kajian yang diadakan IKADI, ada
seorang sahabat menyapanya. “ Assalammu’alaykum.. Ahmad, apa kabar ?” “ Wa’alaykumsalam, Adit, Alhamdulillah, aku baik. Kamu gimana Dit?” “ Alhamdulillah, baik. Aku sekarang sudah hampir punya dua anak. Istriku sedang hamil anak yang kedua.
Kamu gimana? Sudah menikah?” Ahmad yang tadinya ceria menyambut sapaan Adit kini
berubah sedih. Adit mengajaknya duduk dibawah
pohon besar dekat masjid. Pohon rindang yang
lumayan menyejukkan. Kemudian Ahmad
menceritakan semua kegagalannya menjemput
bidadarinya. “ Ahmad, saudaraku, kamu harus tetep semangat. Aku yakin bidadarimu tidak jauh lagi. Oh iya, kebetulan,
adik-adik istriku beberapa ada yang meminta tolong
untuk dicarikan suami. Gimana kalo kamu aku bantuin
nyari juga? Siapa tahu jodoh?” “ Bener nih Dit? Kamu serius?” “ Ya iya lah Mad, urusan begini gak boleh lah main- main.” Tidak menunggu lama, beberapa hari kemudian Ahmad
silaturahim ke rumah Adit. Adit adalah suami Hasna,
guru ngaji Syifa. Adit dan Hasna memberikan beberapa
amplop tertutup yang isinya biodata muslimah. Ahmad mengambil satu dan kemudian ia istikharah.
Tiga hari kemudian, Ahmad menyampaikan
kemantapannya dengan muslimah yang pertama kali
dia ambil biodatanya. Biodata yang menuliskan nama
Syifa. Hasna pun menyampaikan kepada Syifa hingga
proses ta’aruf pun terjadi. ***
Mungkin inilah yang dinamakan jodoh. Keluarga Syifa
maupun Ahmad sangat bahagia dan sangat merestui
keduanya untuk menikah. Pertemuan keluargapun
digelar, kedua keluarga memilih untuk menggelar
pernikahan yang sederhana. Semua keluarga terlibat mempersiapkan pernikahan mereka. Termasuk Hasna
dan Adit, yang menjadi orang terdekat Syifa dan
Ahmad. Seperti sebuah mimpi yang akan menjadi kenyataan
bagi Syifa dan Ahmad. Beberapa waktu lalu mereka
masih dalam kegundahan, menanti siapakan belahan
jiwa mereka. Beberapa waktu lalu semua masih
terbungkus rahasia dan diselaputi misteri. Sekarang?
Tak terasa sampai di dua hari menjelang pernikahan. “ Astaghfirullah, undangan buat temen-temen di kampus ketinggalan…” gumam Syifa. Dengan secepat kilat Syifa bersiap-siap menuju kampusnya. Ia akan
menyampaikan undangannya ke teman-teman
rohisnya dikampus. “ Mau kemana nduk? Kok buru-buru gitu ?” tiba-tiba ibu menhampirinya. “ Mau nganter undangan ke temen-temen di kampus Bu, ketinggalan gitu.” “ Nitip ke teman kamu aja Nduk, siapa gitu, kamu jaga kondisi biar gak kecapekan, kan kemaren udah muter-
muter..” “ InsyaAllah gapapa Bu, sungkan kalo nitip-nitip gitu. Syifa berangkat dulu ya.. ” Syifa akhirnya berangkat ke kampusnya naik angkot.
Jam satu siang, udara kota Malang sedang panas-
panasnya tapi Syifa masih bersemangat. Saat turun dari
angkot, menuju gerbang kampusnya ia melihat seorang
anak kecil yang lucu sekali. Mirip ketika ia masih kecil
dulu, pipinya chubby dan imut. Anak kecil itu begitu aktif, namun tiba-tiba anak kecil itu terlepas dari
genggaman ibunya yang sedang merespon sapaan
seorang wanita. Anak itu berlarian. Syifa melihat
sebuah sedan melaju cepat ke arah anak kecil itu.
Reflek Syifa berlari dan mendorong anak itu … Braaaaaakkkk …..!!! Syifa tertabrak,terlempar jauh, bermeter-meter.
Tubuhnya terguling hebat. Suasana menjadi riuh,
banyak orang berdatangan mengerumuni tubuh Syifa
yang berlumuran darah. Syifa tak sadarkan diri. Ia
dilarikan kerumah sakit terdekat. Kondisi Syifa semakin
kritis. Dokter sedang berusaha menyelamatkannya . keluarganya mulai berdatangan, ibu, ayah, adik, kakak
dan beberapa paman dan bibinya. Mereka tak bisa
menahan isak tangis sedihnya. Syifa masih koma, tak sadarkan diri. Ibunya mencoba
untuk tegar, dipakaikannya jilbab pada putrinya yang
shaliha. Ibu Syifa ingin putrinya tetap cantik dalam
balutan jilbabnya, jilbab pink kesayangannya. Tak lama
kemudian Ahmad dan kedua orangtuanya datang. Ibu
Ahmad yang masuk ke ruang ICU, Ahmad dan bapaknya menunggu diluar. Ibu Ahmad tak sanggup
menahan airmata pilunya, dia mencium kening calon
menantunya yang tergeletak tak berdaya.Ahmad pun
tak bisa menyembunyikan kesedihannya, dia lebih
banyak diam.
*** Hari ini harusnya Syifa menjadi seorang pengantin. Syifa
masih tergolek lemah di ruang ICU, sesekali ia
merespon kehadiran orang-orang didekatnya dengan
kedipan matanya yang sayu. Dengan hati perih, Ahmad
memasuki ruang ICU ditemani ibunya. “ Ibu, Ahmad punya satu permintaan. Tolong ijinkan Ahmad menikah dengan Syifa sekarang ya Bu …” Entah seperti kenapa, ibu Ahmad yang terlanjur
mencintai calon menantunya itu mengiyakan
permintaan anaknya.
Setelah keinginan Ahmad disampaikan kepada semua
keluarga. Pernikahan pun segera disiapkan. Ibunya
Syifa dan Ibunya Ahmad mendandani Syifa hingga ia nampak begitu cantik dengan gaun pengantin yang
sudah dipersiapkan untuk hari bahagianya. Suasana begitu haru, ayah Syifa sendiri yang akan
menikahkan putrinya dengan Ahmad. “ Saya nikahkan putrid saya Syifa Nur Putri Himawan binti Arief
Himawan dengan engkau Ahmad Indrawan bin Husein
dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar
tunai…” “ Saya terima nikahnya Syifa Nur Putri Himawan binti Arief HImawan dengan mas kawin
seperangkat alat shalat dibayar tunai..” Dan saksi- saksi pun berkata, “Sah..!”. Doa barokahpun mengalir menyambut perjanjian suci dua hati. Hanya ada Ahmad dan Syifa di ruang ICU, Ahmad
menggenggam tangan Syifa, mencium kening istrinya
dan mendoakannya. Syifa meresponnya dengan
senyuman. Ahmad bahagia sekali.
“ Dik Syifa, emm bolehkan aku panggil Dik Syifa? Aku senang sekali akhirnya kita berdua dipertemukan Allah.
Dik Syifa bahagia kan? Oh iya, aku hafal Ar Rahman loh..
aku bacain buat kamu ya …” Ayat demi ayat surah Ar Rahman mengalun menghiasi suasana romantis dua
hati yang sedang mensyukuri kebersamaan mereka. Mungkin terlihat seperti kebersamaan yang sepi,
namun dua hati mereka sedang berdialog dengan cinta
yang tak bisa terlukiskan oleh tinta. Hanya mereka dan
Tuhan yang tahu. Dan, ketika sampai di ayat yang
terakhir, tangan Syifa menggenggam erat tangan
Ahmad. “ Dik Syifa mau bilang sesuatu?”, tanya Ahmad sembari mendekatkan telinganya. Namun tak
terdengar apa-apa. Ahmad mencoba melihat gerak
bibir istrinya yang terlihat lemah.
“ Iya Syifa, aku insyaAllah ridho … sudah, syifa istirahat ya….” Syifa pun pelan-pelan kembali menggerakkan bibirnya, seakan mengucapkan sesuatu. Terdiam,
pelan-pelan Syifa tersenyum dan menutup matanya
untuk selamanya. Ahmad tak kuasa menahan airmatanya. Istri yang
dicintainya telah pergi. Ahmad teringat dengan sebuah
hadist, istri yang meninggal dunia dalam keridhaan
suaminya akan masuk surga. (Ibnu Majah, TIrmidzi) “ Tunggu aku di surga ya Dik Syifa …” ucap Ahmad dengan senyum dan airmata yang bersamaan.

Tunggu aku di syurga (the romance)

Syifa, seorang perempuan shalihah yang tak hanya
sekedar cantik, perhiasan iman dan keshalihannya
menghiasi setiap langkahnya. Syifa cukup terkenal
dikalangan aktivis,bisa dibilang mobilitasnya lumayan
tinggi. Syifa mulai memasuki sebuah fase yang sering
dialami setiap wanita. Usianya memasuki angka duapuluh lima tahun,hatinya mulai dihiasi rasa rindu
yang tak bisa diurai dengan logika. Perlahan Syifa menyusun kepingan-kepingan
keinginannya dan mengumpulkan segenap kekuatan.
Ia menemui murabbinya. “ Mbak Hasna, saya ingin menikah. Tolong carikan saya calon ya Mbak…” “ InsyaAllah dik,, biodata dan foto adik sudah disiapkan?” “ Sudah mbak, ini biodata saya..” “ Oke, adik jangan lupa terus berdoa ya …” Dengan wajah penuh semangat dan azzam yang kuat,
Syifa melangkah meninggalkan rumah Hasna. Sejak itu
ia tak pernah berhenti berdoa. Setiap malam ia semakin
rajin berkhalwat dengan Rabbnya. Sujudnya semakin
panjang menghiasi setiap shalatnya. “ Ya Rabb, hamba menyerahkan semua padaMu. Engkaulah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik
untuk hamba. Hamba hanya ingin seorang lelaki shalih.
Yang kan mencintai hamba dengan kecintaanNya
padaMu. Yang kan selalu membuat hamba iri dengan
ketaatannya padaMu. Hamba ingin seorang lelaki
shalih,, yang kan melepas hamba dengan ridha dan keikhlasannya ketika hamba berpulang kepadaMu.. “ Itulah sepenggal doa Syifa.. Hari berganti hari, belum ada kabar dari mbak Hasna.
Disatu sisi Syifa gelisah, disatu sisi dia terus berusaha
menenangkan dan menguatkan hatinya. Baru beberapa ia menyerahkan biodatanya, sedangkan
diluar sana mungkin ada yang telah menunggu
bertahun-tahun. “Ah… harus tetap semangat..!” bisiknya dalam hati. ***
Di tempat lain, sesosok laki-laki shalih, sedang
bermunajah di penghujung malam. Hatinya menangis
pilu. Beberapa kali hatinya terluka, lamarannya
beberapa kali ditolak. Sedangkan usia semakin
menunjukkan angka yang semakin tua, belum lagi orangtua yang semakin iba melihatnya tak kunjung
bersanding dengan bidadari. Keinginan untuk menikah
pun tak bisa dibenddung lagi. Ia tak tahu harus
berikhtiar apalagi. Ia hanya bisa mengadukan pada
RabbNya, memohon segenap kekuatan dan semangat
yang sempat padam. “ Nak, bapak dan ibu selalu mendoakan kamu. Mungkin yang kemarin-kemarin memang belum yang
terbaik buat kamu…”. Ia, Ahmad, tak kuasa menahan haru ketika teringat
ucapan ibunya. Sebagai seorang laki-laki, ia cukup ideal.
Ia laki-laki yang shalih, mapan dan dari keluarga yang
baik. Suatu hari, ketika ia beranjak dari tempat duduknya,
setelah mengikuti kajian yang diadakan IKADI, ada
seorang sahabat menyapanya. “ Assalammu’alaykum.. Ahmad, apa kabar ?” “ Wa’alaykumsalam, Adit, Alhamdulillah, aku baik. Kamu gimana Dit?” “ Alhamdulillah, baik. Aku sekarang sudah hampir punya dua anak. Istriku sedang hamil anak yang kedua.
Kamu gimana? Sudah menikah?” Ahmad yang tadinya ceria menyambut sapaan Adit kini
berubah sedih. Adit mengajaknya duduk dibawah
pohon besar dekat masjid. Pohon rindang yang
lumayan menyejukkan. Kemudian Ahmad
menceritakan semua kegagalannya menjemput
bidadarinya. “ Ahmad, saudaraku, kamu harus tetep semangat. Aku yakin bidadarimu tidak jauh lagi. Oh iya, kebetulan,
adik-adik istriku beberapa ada yang meminta tolong
untuk dicarikan suami. Gimana kalo kamu aku bantuin
nyari juga? Siapa tahu jodoh?” “ Bener nih Dit? Kamu serius?” “ Ya iya lah Mad, urusan begini gak boleh lah main- main.” Tidak menunggu lama, beberapa hari kemudian Ahmad
silaturahim ke rumah Adit. Adit adalah suami Hasna,
guru ngaji Syifa. Adit dan Hasna memberikan beberapa
amplop tertutup yang isinya biodata muslimah. Ahmad mengambil satu dan kemudian ia istikharah.
Tiga hari kemudian, Ahmad menyampaikan
kemantapannya dengan muslimah yang pertama kali
dia ambil biodatanya. Biodata yang menuliskan nama
Syifa. Hasna pun menyampaikan kepada Syifa hingga
proses ta’aruf pun terjadi. ***
Mungkin inilah yang dinamakan jodoh. Keluarga Syifa
maupun Ahmad sangat bahagia dan sangat merestui
keduanya untuk menikah. Pertemuan keluargapun
digelar, kedua keluarga memilih untuk menggelar
pernikahan yang sederhana. Semua keluarga terlibat mempersiapkan pernikahan mereka. Termasuk Hasna
dan Adit, yang menjadi orang terdekat Syifa dan
Ahmad. Seperti sebuah mimpi yang akan menjadi kenyataan
bagi Syifa dan Ahmad. Beberapa waktu lalu mereka
masih dalam kegundahan, menanti siapakan belahan
jiwa mereka. Beberapa waktu lalu semua masih
terbungkus rahasia dan diselaputi misteri. Sekarang?
Tak terasa sampai di dua hari menjelang pernikahan. “ Astaghfirullah, undangan buat temen-temen di kampus ketinggalan…” gumam Syifa. Dengan secepat kilat Syifa bersiap-siap menuju kampusnya. Ia akan
menyampaikan undangannya ke teman-teman
rohisnya dikampus. “ Mau kemana nduk? Kok buru-buru gitu ?” tiba-tiba ibu menhampirinya. “ Mau nganter undangan ke temen-temen di kampus Bu, ketinggalan gitu.” “ Nitip ke teman kamu aja Nduk, siapa gitu, kamu jaga kondisi biar gak kecapekan, kan kemaren udah muter-
muter..” “ InsyaAllah gapapa Bu, sungkan kalo nitip-nitip gitu. Syifa berangkat dulu ya.. ” Syifa akhirnya berangkat ke kampusnya naik angkot.
Jam satu siang, udara kota Malang sedang panas-
panasnya tapi Syifa masih bersemangat. Saat turun dari
angkot, menuju gerbang kampusnya ia melihat seorang
anak kecil yang lucu sekali. Mirip ketika ia masih kecil
dulu, pipinya chubby dan imut. Anak kecil itu begitu aktif, namun tiba-tiba anak kecil itu terlepas dari
genggaman ibunya yang sedang merespon sapaan
seorang wanita. Anak itu berlarian. Syifa melihat
sebuah sedan melaju cepat ke arah anak kecil itu.
Reflek Syifa berlari dan mendorong anak itu … Braaaaaakkkk …..!!! Syifa tertabrak,terlempar jauh, bermeter-meter.
Tubuhnya terguling hebat. Suasana menjadi riuh,
banyak orang berdatangan mengerumuni tubuh Syifa
yang berlumuran darah. Syifa tak sadarkan diri. Ia
dilarikan kerumah sakit terdekat. Kondisi Syifa semakin
kritis. Dokter sedang berusaha menyelamatkannya . keluarganya mulai berdatangan, ibu, ayah, adik, kakak
dan beberapa paman dan bibinya. Mereka tak bisa
menahan isak tangis sedihnya. Syifa masih koma, tak sadarkan diri. Ibunya mencoba
untuk tegar, dipakaikannya jilbab pada putrinya yang
shaliha. Ibu Syifa ingin putrinya tetap cantik dalam
balutan jilbabnya, jilbab pink kesayangannya. Tak lama
kemudian Ahmad dan kedua orangtuanya datang. Ibu
Ahmad yang masuk ke ruang ICU, Ahmad dan bapaknya menunggu diluar. Ibu Ahmad tak sanggup
menahan airmata pilunya, dia mencium kening calon
menantunya yang tergeletak tak berdaya.Ahmad pun
tak bisa menyembunyikan kesedihannya, dia lebih
banyak diam.
*** Hari ini harusnya Syifa menjadi seorang pengantin. Syifa
masih tergolek lemah di ruang ICU, sesekali ia
merespon kehadiran orang-orang didekatnya dengan
kedipan matanya yang sayu. Dengan hati perih, Ahmad
memasuki ruang ICU ditemani ibunya. “ Ibu, Ahmad punya satu permintaan. Tolong ijinkan Ahmad menikah dengan Syifa sekarang ya Bu …” Entah seperti kenapa, ibu Ahmad yang terlanjur
mencintai calon menantunya itu mengiyakan
permintaan anaknya.
Setelah keinginan Ahmad disampaikan kepada semua
keluarga. Pernikahan pun segera disiapkan. Ibunya
Syifa dan Ibunya Ahmad mendandani Syifa hingga ia nampak begitu cantik dengan gaun pengantin yang
sudah dipersiapkan untuk hari bahagianya. Suasana begitu haru, ayah Syifa sendiri yang akan
menikahkan putrinya dengan Ahmad. “ Saya nikahkan putrid saya Syifa Nur Putri Himawan binti Arief
Himawan dengan engkau Ahmad Indrawan bin Husein
dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar
tunai…” “ Saya terima nikahnya Syifa Nur Putri Himawan binti Arief HImawan dengan mas kawin
seperangkat alat shalat dibayar tunai..” Dan saksi- saksi pun berkata, “Sah..!”. Doa barokahpun mengalir menyambut perjanjian suci dua hati. Hanya ada Ahmad dan Syifa di ruang ICU, Ahmad
menggenggam tangan Syifa, mencium kening istrinya
dan mendoakannya. Syifa meresponnya dengan
senyuman. Ahmad bahagia sekali.
“ Dik Syifa, emm bolehkan aku panggil Dik Syifa? Aku senang sekali akhirnya kita berdua dipertemukan Allah.
Dik Syifa bahagia kan? Oh iya, aku hafal Ar Rahman loh..
aku bacain buat kamu ya …” Ayat demi ayat surah Ar Rahman mengalun menghiasi suasana romantis dua
hati yang sedang mensyukuri kebersamaan mereka. Mungkin terlihat seperti kebersamaan yang sepi,
namun dua hati mereka sedang berdialog dengan cinta
yang tak bisa terlukiskan oleh tinta. Hanya mereka dan
Tuhan yang tahu. Dan, ketika sampai di ayat yang
terakhir, tangan Syifa menggenggam erat tangan
Ahmad. “ Dik Syifa mau bilang sesuatu?”, tanya Ahmad sembari mendekatkan telinganya. Namun tak
terdengar apa-apa. Ahmad mencoba melihat gerak
bibir istrinya yang terlihat lemah.
“ Iya Syifa, aku insyaAllah ridho … sudah, syifa istirahat ya….” Syifa pun pelan-pelan kembali menggerakkan bibirnya, seakan mengucapkan sesuatu. Terdiam,
pelan-pelan Syifa tersenyum dan menutup matanya
untuk selamanya. Ahmad tak kuasa menahan airmatanya. Istri yang
dicintainya telah pergi. Ahmad teringat dengan sebuah
hadist, istri yang meninggal dunia dalam keridhaan
suaminya akan masuk surga. (Ibnu Majah, TIrmidzi) “ Tunggu aku di surga ya Dik Syifa …” ucap Ahmad dengan senyum dan airmata yang bersamaan.

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

 
powered by blogger.com and maxwidth build 0.01 mobile template