Cari Artikel Di Blog Ini

Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label Motivasi islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi islami. Tampilkan semua postingan
Kamis, 09 Februari 2012 02.02

Taubat (Bagian ke-2)

Februari 9 - 2012 by Tim Kajian Manhaj Tarbiyah

◣ Buah dari Taubat

Taubat selain kewajiban dan keharusan yang mesti dilakukan oleh manusia,
tanpa terkecuali orang beriman apalagi orang
banyak berdosa dan maksiat. Allah SWT berfirman

“…dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah,
hai orang-orang yang beriman supaya kamu
beruntung.” (QS. An-Nuur: 31)

Allah Berfirman:

“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian
bertaubatlah kepada-Nya…” (QS. Huud: 90)

Allah Berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah
kepada Allah dengan taubat yang
sesungguhnya…” (QS. At-Tahrim: 8)


Dalam hadits nabi disebutkan:

Abu Hurairah RA berkata: “Aku mendengar
Rasulullah SAW bersabda, ‘Demi Allah,
sesungguhnya, aku membaca istighfar dan bertaubat
kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh puluh
kali.’” (HR. Bukhari)


Dalam riwayat lain disebutkan:

Al-Aghar bin Yasar Al-Muzani RA berkata bahwa
Rasulullah SAW bersabda, “Hai manusia,
bertaubatlah kepada Allah dan mintalah ampunan
kepada-Nya. Sesungguhnya, aku bertaubat seratus
kali dalam sehari.” (HR. Muslim)

Taubat juga merupakan amalan yang sangat
disenangi dan dicintai oleh Allah SWT. Seperti
firman Allah:

“Sesungguhnya Allah mencintai orang yang
bertaubat dan mencintai orang yang mensucikan
diri” (QS. Al-Baqarah: 222)


Kegembiraan dan kesenangan Allah begitu besar
seperti orang yang mendapatkan barang yang
sebelumnya hilang namun secara tiba-tiba ada
dihadapannya, Rasulullah saw mentamsilkan dalam
haditsnya:

Abu Hamzah, Anas bin Malik Al-Ansari RA
(pelayan Rasulullah SAW.) berkata bahwa
Rasulullah SAW bersabda: “Allah lebih gembira
terhadap taubat hamba-Nya daripada seseorang di
antara kamu yang mendapatkan untanya yang telah
hilang di gurun sahara.” (Muttafaq ‘alaih)


Dalam riwayat lain disebutkan: “Allah sangat
gembira terhadap hamba-Nya yang mau bertaubat.
Kegembiraan Allah itu lebih besar daripada
kegembiraan seseorang di antara kamu yang
mendapatkan kembali untanya yang sarat dengan
perbekalan. Sebelumnya, ia mengendarai untanya di gurun sahara, lalu unta yang ِa tunggangi lepas.
Padahal, di atas unta tersebut terdapat makanan dan
minuman perbekalannya. Ia sudah putus asa.
Kemudian, ia mendekati sebuah pohon, dan
berbaring di bawahnya. Dia sudah yakin bahwa
untanya tidak akan kembali. Pada saat itulah, tiba- tiba unta tersebut berdiri di depannya. Ia memegang
kendalinya. Lalu karena sangat gembiranya, ia
mengucapkan, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku
dan aku adalah tuhan-Mu.’ Ia salah
mengucapkannya karena sangat gembira.” (HR.
Muslim)


Dalam hadits disebutkan:

Abu Hurairah RA berkata bahwa Rasulullah SAW
bersabda, “Allah SWT tertawa melihat dua orang
yang ingin saling membunuh, tetapi keduanya masuk
surga.”

Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana
itu bisa terjadi?”

(Rasulullah menjawab), “Orang yang pertama
berperang di jalan Allah, lalu ia terbunuh sebagai
syahid. Kemudian, si pembunuh bertaubat dan
masuk Islam. Ia berperang di jalan Allah hingga
mati sebagai syahid.” (Muttafaq ‘alaih)

Di samping itu pula Allah akan menggantikan
keburukan dengan kebaikan, sebagaimana firman-
Nya:

“Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan
melakukan perbuatan baik; maka kejahatan mereka
diganti dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Furqan:
70)

Karena itu taubat bagi kita adalah sebuah kebutuhan
agar kita mendapatkan karunia yang begitu dari
Allah SWT.


Adapun buah dari bertaubat kepada Allah adalah:

① Mendapatkan kecintaan dari Allah SWT.

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
bertaubat dan menyukai orang-orang yang
mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)

② Mendapatkan nikmat dari Allah saat di dunia.

“… maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah
ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah
Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan
hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan
harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu
kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)

③ Dihapuskannya dosa-dosa.

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah
kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang
semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan
menutupi kesalahan-kesalahanmu…” (QS. At-
Tahrim: 8)

④ Mendapatkan ganjaran surga

“… dan memasukkanmu ke dalam jannah yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai…” (QS. At-
Tahrim: 8)


⑤ Digantikannya kejahatan dengan kebaikan

“… kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan
mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka
diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah
maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-
Furqan: 70)

- Bersambung ᒠ

Taubat (Bagian ke-1)

Februari 9 - 2012 by Tim Kajian Manhaj Tarbiyah


◣ Makna Taubat

Menurut bahasa At-taubah berarti ar-rujuu’ (kembali), sedangkan menurut istilah taubat adalah kembali dari kondisi jauh dari Allah
SWT menuju kedekatan kepada-Nya. Atau:
pengakuan atas dosa, penyesalan, berhenti, dan
tekad untuk tidak mengulanginya kembali di masa
datang.


◣ Mengapa harus bertaubat?


1.ᔁ Karena manusia pasti berdosa.

2.ᔁ Karena dosa adalah penghalang antara kita dan
Sang Kekasih (Allah SWT), maka lari dari hal yang
membuat kita jauh dari-Nya adalah kemestian.

3.ᔁ Karena dosa pasti membawa kehancuran cepat
atau lambat, maka mereka yang berakal sehat pasti
segera menjauh darinya.

4.ᔁ Jika ada manusia yang tidak melakukan dosa,
pasti ia pernah berkeinginan untuk melakukannya.
Jika ada orang yang tidak pernah berkeinginan
melakukan dosa, pasti ia pernah lalai dari
mengingat Allah. Jika ada orang yang tidak pernah
lalai mengingat Allah, pastilah ia tidak akan mampu memberikan hak Allah sepenuhnya. Semua itu
adalah kekurangan yang harus ditutupi dengan
taubat.

5.ᔁ Karena Allah swt memerintahkan kita bertaubat,
sebagaimana dalam firman-Nya,

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah
kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang
semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan
menutupi kesalahan-kesalahanmu dan
memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin
yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar
di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil
mereka mengatakan: “Ya Rabb kami,
sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan
ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. At-Tahrim: 8)

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai
orang-orang yang beriman supaya kamu
beruntung.” (QS. An-Nuur: 31)

“dan hendaklah kamu meminta ampun kepada
Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu
mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan
memberi kenikmatan yang baik (terus menerus)
kepadamu sampai kepada waktu yang telah
ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap- tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan)
keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka
sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa
hari kiamat.” (QS. Huud: 3)

6.ᔁ Karena Allah mencintai orang yang bertaubat,
sebagaimana dalam firman-Nya,

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
bertaubat dan menyukai orang-orang yang
mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)

7.ᔁ Karena Rasulullah SAW senantiasa bertaubat
padahal beliau seorang nabi yang ma’shum (terjaga
dari dosa). Beliau bersabda:

“Demi Allah, sesungguhnya aku meminta ampun dan
bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh
puluh kali.” (HR. Bukhari).

Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa beliau
beristighfar seratus kali dalam sehari.


◣ Syarat-syarat taubat

1.⣑ Penyesalan dari dosa karena Allah.

2.⣑ Berhenti melakukannya.

3.⣑ Bertekad untuk tidak mengulanginya di
masa datang.

4.⣑ Dilakukan sebelum nyawa sampai di
tenggorokan ketika sakaratul maut, atau
sebelum matahari terbit dari barat.

5.⣑ Jika dosa berkaitan dengan sesama
manusia, maka syaratnya bertambah satu:
melunasi hak orang tersebut, atau meminta
kerelaannya, atau memperbanyak amal
kebaikan.


Kemaksiatan yang dilakukan berkaitan dengan hak
sesama manusia, ada empat syarat yang harus
dipenuhi, yakni syarat pertama, kedua, dan ketiga,
sebagaimana tiga syarat di atas, dan syarat
keempat: membebaskan diri dari hak tersebut.

Artinya, jika hak itu berupa harta benda, ia harus
mengembalikan kepada pemiliknya. Jika
berupa qadzaf (menuduh orang lain berbuat zina), ia
harus menyerahkan dirinya untuk dijatuhi hukuman
atau meminta maaf kepada orang yang
bersangkutan. Jika berupa ghibah (menggunjing orang lain), ia harus meminta maaf kepada orang
tersebut.

Setiap orang harus bertaubat dari segala dosa yang
pernah diperbuat. Jika ia hanya bertaubat dari
sebagian dosanya, taubat tersebut diterima, namun ia
masih mempunyai tanggungan dosa yang lain.


– Bersambung :)
Senin, 06 Februari 2012 02.10

Remaja PD Oke, Tapi Jangan Over

REMAJA percaya diri alias PD itu asik, tapi kalo sampe PD OD alias PD yang over dosis, jadinya gak
asik lagi. Bisa kamu bayangin kalau punya teman yang PD OD, pasti deh kesan yang timbul adalah nih
anak sombong banget. Misalnya saja dalam hal kepintaran. PD bahwa kamu bisa mengerjakan semua tugas sekolah dan ulangan dengan baik dan benar, itu keren. Tapi kalo PD OD yang berlaku, maka jadinya suka meremehkan orang lain dan merasa dirinya yang paling pintar dan bisa mengerjakan sendiri.


Begitu juga dalam hal penampilan, PD dengan jati diri kamu sebagai muslimah, itu ‘cool’ banget. Tapi kalo PD OD jadinya bukan berbusana muslimah yang syar’I tapi malah nabrak sana-sini. Misalnya saja nih, ada seorang muslimah yang ke-PD-an dengan memakai atasan baju lengan panjang tapi lalu diberi tank top di luar. Udah gitu warna tank top yang dipake sangat genjreng dan mencolok mata. Ini muslimah sehat apa lagi demam ya?


PD OD yang kayak gini jangan ditiru deh. Biarpun stok PD kamu over, tapi akal sehat dan iman yang mantap tetap harus kamu pakai kapan pun dan dimana pun. Karena bagi seorang muslim, setiap amal perbuatan dirinya itu ada nilah dan pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Jadi tak bisa dan tak boleh semuanya sendiri.


Sudah banyak kasus orang yang PD OD biasanya malah dijauhi teman. Sebetulnya orang model begini adalah orang yang bermasalah namun berusaha ditutupi dengan reaksi PD yang kelebihan itu. Jiwa dalam dirinya rapuh tapi ia terlalu gengsi untuk mengakuinya. Ia sebetulnya tak punya apa-apa dan tak memiliki kemampuan apa pun, tapi ia terlalu malu untuk diketahui orang lain. Jadilah segala kekurangan dalam dirinya dipasangi topeng bernama PD yang over dosis itu.


Remaja shalihah selalu menimbang setiap detil perbuatannya dengan timbangan Islam. Jadinya, dalam hal apa pun, baik berpakaian, berpikir, dan bertingkah laku, selalu ada patokan syariat di sana. Dalam menampilkan PD dalam dirinya, ia juga pasti akan memakai takaran yang pas, tidak lebih dan tidak kurang. Wibawa dalam dirimu sebagai muslimah pasti akan lebih cemerlang ketika rasa PD yang ada itu karena Allah semata. Tidak ada nada kesombongan di sana. Tidak ada nada meremehkan manusia lain di dalamnya.


So, bagi kamu semua yang merasa dirinya generasi muda Islam yang oke, tempatkan rasa PD ini pada tempat yang seharusnya ya. PD ketika melakukan kebaikan. PD ketika berdakwah amar makruf nahi mungkar dan PD ketika konsisten berbuat kebaikan. Jangan sebaliknya. PD ini jangan dipelihara dalam kemaksiatan. Jangan disimpan dalam kemungkaran. Dan jangan bangga ketika berada pada kesombongan. Buang jauh-jauh PD jenis ini, jangan sampai malah PD OD.


Mulai sekarang, punyai PD takaran tepat dan pas ketika kamu membawa diri. PD ketika kamu berjalan di muka bumi sebagai muslim yang berusaha kaffah, menjadi hamba Allah yang bertakwa dan menjadi umat Muhammad yang baik. Kamu pasti bisa jadi muslim PD jenis ini. Yakin saja ^_^
Kamis, 12 Januari 2012 04.24

Jangan halangi aku untuk ber'amal..!



Hari itu Nasibah tengah berada di dapur.
Suaminya, Said tengah beristirahat di kamar tidur.
Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan
gunung-gunung batu yang runtuh. Nasibah
menebak, itu pasti tentara musuh. Memang,
beberapa hari ini ketegangan memuncak di sekitar Gunung Uhud.

Dengan bergegas, Nasibah meninggalkan apa yang
tengah dikerjakannya dan masuk ke kamar.
Suaminya yang tengah tertidur dengan halus dan
lembut dibangunkannya. “Suamiku tersayang,”
Nasibah berkata, “Aku mendengar suara aneh
menuju Uhud. Barang kali orang-orang kafir telah menyerang.”

Said yang masih belum sadar sepenuhnya,
tersentak. Ia menyesal mengapa bukan ia yang
mendengar suara itu. Malah Istrinya. Segera saja ia
bangkit dan mengenakan pakaian perangnya.
Sewaktu ia menyiapkan kuda, Nasibah
menghampiri. Ia menyodorkan sebilah pedang kepada Said.

“Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang
sebelum menang....”

Said memandang wajah Istrinya. Setelah
mendengar perkataannya seperti itu, tak pernah
ada keraguan baginya untuk pergi ke medan
perang. Dengan sigap dinaikinya kuda itu, lalu
terdengarlah derap suara langkah kuda menuju
utara. Said langsung terjun ke tengah medan pertempuran yang sedang berkecamuk. Di satu
sudut yang lain, Rasulullah saw melihatnya dan
tersenyum kepadanya. Senyum yang tulus itu makin
mengobarkan keberanian Said saja.

Di rumah, Nasibah duduk dengan gelisah. Kedua
anaknya, Amar yang baru berusia 15 tahun dan
Saad yang dua tahun lebih muda, memperhatikan
Ibunya dengan pandangan cemas. Ketika itulah
tiba-tiba muncul seorang pengendara kuda yang
nampaknya sangat gugup.

“Ibu, salam dari Rasulullah,” berkata si
Penunggang Kuda, “Suami Ibu, Said baru saja
gugur di medan perang. Beliau syahid....”

Nasibah tertunduk sebentar, “Innalillah....”
gumamnya, “Suamiku telah menang perang. Terima
kasih, ya Allah.”

Setelah pemberi kabar itu meninggalkan tempat itu,
Nasibah memanggil Amar. Ia tersenyum
kepadanya di tengah tangis yang tertahan, “Amar,
kaulihat Ibu menangis? Ini bukan air mata sedih
mendengar Ayahmu telah syahid. Aku sedih karena
tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan pagi para pejuang Nabi. Maukah engkau melihat Ibumu
bahagia?”
Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar.

“Ambilah kuda di kandang dan bawalah tombak.
Bertempurlah bersama Nabi hingga kaum kafir
terbasmi.”

Mata amar bersinar-sinar. “Terima kasih, Ibu.
Inilah yang aku tunggu sejak dari tadi. Aku was-
was seandainya Ibu tidak memberi kesempatan
kepadaku untuk membela agama Allah.”

Putra Nasibah yang berbadan kurus itu pun segera
menderapkan kudanya mengikut jejak sang Ayah.
Tidak tampak ketakutan sedikitpun dalam
wajahnya. Di depan Rasulullah saw, ia
memperkenalkan diri. “Ya Rasulullah, aku Amar
bin Said. Aku datang untuk menggantikan Ayah yang telah gugur.”

Rasul saw dengan terharu memeluk anak muda itu.
“Engkau adalah pemuda Islam yang sejati, Amar.
Allah memberkatimu....”

Hari itu pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan
darah berlangsung sampai sore. Pagi-pagi seorang
utusan pasukan Islam berangkat dari perkemahan
mereka menuju ke rumah Nasibah. Setibanya di
sana, perempuan yang tabah itu sedang termangu-
mangu menunggu berita, “Ada kabar apakah gerangan kiranya?” serunya gemetar ketika sang
Utusan belum lagi membuka suaranya, “Apakah
anakku gugur?”

Utusan itu menunduk sedih, “Betul....”
“Innalillah....” Nasibah bergumam kecil. Ia
menangis.

“Kau berduka, ya Ummu Amar?”
Nasibah menggeleng kecil. “Tidak, aku gembira.
Hanya aku sedih, siapa lagi yang akan
kuberangkatan? Saad masih kanak-kanak.”

Mendegar itu, Saad yang tengah berada tepat di
samping Ibunya, menyela, “Ibu, jangan remehkan
aku. Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan
bahwa Saad adalah putra seorang Ayah yang gagah
berani.”

Nasibah terperanjat. Ia memandangi putranya.
“Kau tidak takut, Nak?”

Saad yang sudah meloncat ke atas kudanya
menggeleng yakin. Sebuah senyum terhias di
wajahnya. Ketika Nasibah dengan besar hati
melambaikan tangannya, Saad hilang bersama
utusan itu.

Di arena pertempuran, Saad betul-betul
menunjukkan kemampuannya. Pemuda berusia 13
tahun itu telah banyak menghempaskan banyak
nyawa orang kafir. Hingga akhirnya tibalah saat
itu, yakni ketika sebilah anak panah menancap di
dadanya. Saad tersungkur mencium bumi dan menyerukan, “Allahu akbar!”

Kembali Rasulullah saw memberangkatkan utusan
ke rumah Nasibah. Mendengar berita kematian itu,
Nasibah meremang bulu kuduknya. “Hai utusan,”
ujarnya, “Kau saksikan sendiri aku sudah tidak
punya apa-apa lagi. Hanya masih tersisa diri yang
tua ini. Untuk itu izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang.”

Sang utusan mengerutkan keningnya. “Tapi engkau
perempuan, ya Ibu....”

Nasibah tersinggung, “Engkau meremehkan aku
karena aku perempuan? Apakah perempuan tidak
ingin juga masuk Surga melalui jihad?”

Nasibah tidak menunggu jawaban dari utusan
tersebut. Ia bergegas saja menghadap Rasulullah
saw dengan kuda yang ada. Tiba di sana,
Rasulullah saw mendengarkan semua perkataan
Nasibah. Setelah itu, Rasulullah saw pun berkata
dengan senyum. “Nasibah yang dimuliakan Allah. Belum waktunya perempuan mengangkat senjata.
Untuk sementra engkau kumpulkan saja obat-
obatan dan rawatlah tentara yang luka-luka.
Pahalanya sama dengan yang bertempur.”

Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nasibah
pun segera menenteng tas obat-obatan dan
berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang
bertempur. Dirawatnya mereka yang luka-luka
dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia sedang
menunduk memberi minum seorang prajurit muda yang luka-luka, tiba-tiba terciprat darah di
rambutnya. Ia menegok. Kepala seorang tentara
Islam menggelinding terbabat senjata orang kafir.

Nasibah menyaksikan kekejaman ini. Apalagi
waktu dilihatnya Nabi terjatuh dari kudanya akibat
keningnya terserempet anak panah musuh, Nasibah
tidak bisa menahan diri lagi. Ia bangkit dengan
gagah berani. Diambilnya pedang prajurit yang
rubuh itu. Dinaiki kudanya. Lantas bagai 'singa betina', ia mengamuk. Musuh banyak yang terbirit-
birit menghindarinya. Puluhan jiwa orang kafir pun
tumbang. Hingga pada suatu waktu seorang kafir
mengendap dari belakang, dan membabat putus
lengan kirinya. Ia terjatuh terinjak-injak kuda.

Peperangan terus saja berjalan. Medan
pertempuran makin menjauh, sehingga Nasibah
teronggok sendirian. Tiba-tiba Ibnu Mas’ud
mengendari kudanya, mengawasi kalau-kalau ada
korban yang bisa ditolongnya. Sahabat itu, begitu
melihat seonggok tubuh bergerak-gerak dengan payah, segera mendekatinya. Dipercikannya air ke
muka tubuh itu. Akhirnya Ibnu Mas’ud
mengenalinya, “Istri Said-kah engkau?”

Nasibah samar-samar memperhatikan
penolongnya. Lalu bertanya,

“Bagaimana dengan
Rasulullah? Selamatkah beliau?”

“Beliau tidak kurang suatu apapun....”

“Engkau Ibnu Mas’ud, bukan? Pinjamkan kuda
dan senjatamu kepadaku....”

“Engkau masih luka parah, Nasibah....”

“Engkau mau menghalangi aku membela
Rasulullah?”

Terpaksa Ibnu Mas’ud menyerahkan kuda dan
senjatanya. Dengan susah payah, Nasibah menaiki
kuda itu, lalu menderapkannya menuju ke
pertempuran. Banyak musuh yang
dijungkirbalikannya. Namun, karena tangannya
sudah buntung, akhirnya tak urung juga lehernya terbabat putus. Rubuhlah perempuan itu ke atas
pasir. Darahnya membasahi tanah yang
dicintainya.

Tiba-tiba langit berubah hitam mendung. Padahal
tadinya cerah terang benderang. Pertempuran
terhenti sejenak. Rasul saw kemudian berkata
kepada para sahabatnya, “Kalian lihat langit tiba-
tiba menghitam bukan? Itu adalah bayangan para
Malaikat yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka berduyun-duyun menyambut kedatangan arwah
Nasibah, wanita yang perkasa.”

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

 
powered by blogger.com and maxwidth build 0.01 mobile template